Anak-Anak Bahagia

7:50 PM

Happy Child, Source:Google


Dalam tulisanku seminggu yang lalu, aku menulis mengenai bagaimana aku mulai menyadari bahwa ternyata selama ini aku hidup sebagai orang yang cacat (batinnya), orang yang hidup dibalik topeng senyuman dan kehilangan dirinya sendiri (tulisan lengkap:http://floramarcella.blogspot.com/2012/09/kisah-anak-yang-kehilangan-dirinya.html)

Beberapa hari setelah aku mengetahui hal ini, banyak kejadian yang berlangsung di kepala dan hatiku. Aku mengalami kebingungan dan ketakutan. Pertanyaan demi pertanyaan muncul di kepalaku, Apa yang harus aku lakukan sekarang? Bagaimana memperbaiki semua kekacauan ini?Bagaimana aku bisa melengkapi hatiku yang berlubang?Bagaimana aku bisa melepaskan diri dari amarah dan kesedihanku?Bagaimana aku bisa menemukan diriku yang sebenarnya?Bagaimana caranya supaya aku bisa hidup terbebas dari semua tekanan ini?dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang betul betul membuat aku stress.

Mengetahui kenyataan bahwa selama ini aku memiliki luka hati yang parah, memiliki amarah terpendam, dan menghidupi hidup pura-pura, tidaklah mudah. Aku butuh waktu berhari-hari untuk akhirnya dapat memahami kondisiku. Aku tidak yakin apa yang harus kulakukan untuk memperbaiki hidupku, namun aku telah membuat keputusan! Aku akan mengakhiri kehidupan penuh tekanan yang selama ini kuhidupi, aku mau berhenti berpura-pura. Berhenti bersembunyi dibalik topeng senyuman. 
Aku bertekad untuk menyembuhkan luka hatiku, memenuhi kebutuhan emosiku serta menemukan cara untuk hidup lebih bahagia. Aku yakin aku bisa melakukannya.

Lewat tulisanku di blog ini, aku akan merekam pengamatanku terhadap diriku sendiri: perjalanan pikiranku dan perubahan yang terjadi dalam diriku semenjak aku menyadari keadaan diriku yang cacat batin. Cerita ini bisa jadi cukup panjang, maka aku akan membaginya dalam beberapa bagian yang saling berkaitan.

Inspirasiku dalam menulis tulisan ini adalah Ibu Miranda Suryadjaja, seorang lifecoach dan ahli komunikasi, lalu Dave Pelzer, penulis buku trilogi bestseller A Child Called It-The lost Boy dan A Man Named Dave juga sebuah buku yang juga direkomendasi Ibu Miranda, berjudul 'The Drama of the Gifted Child/ The Search for the True Self'/Prisoners of Childhood yang ditulis oleh seorang penulis dan psychoanalyst dari Jerman bernama Alice Miller. 

Aku persembahkan tulisan  ini untuk diriku sendiri, adik-adiku, orang tuaku dan siapa saja yang mengalami hal yang aku alami.  

The Drama of the Gifted Child by Alice Miller
source: Google search

Sebelum memasuki kisah pengalaman pribadiku (sepertinya pada postblog yang akan datang), aku akan mengawali tulisanku dengan membagikan pemahamanku mengenai hubungan orang tua dengan anak-anak. Sumber tulisan ini adalah gabungan dari pengamatan, pengalaman, penelusuranku di dunia maya dan buku-buku, serta training publik komunikasi efektif yang baru-baru ini aku ikuti:

Seorang bayi manusia, menurut penelitian merupakan salah satu bayi yang paling rapuh dibanding bayi mahluk hidup lain. Ketergantungan mereka terhadap induk/orang tua mereka terbilang paling lama. Bayi binatang hanya butuh beberapa bulan untuk bisa berjalan, mencari makan sendiri, merumput, atau berburu. Sementara, bayi manusia butuh +/- 1 tahun untuk bisa mulai berjalan, dan umumnya butuh dukungan sampai sekitar 17 tahun sampai akhirnya manusia muda ini bisa memenuhi kebutuhannya sendiri atau kasarnya bisa cari makan sendiri. 
Maka kira-kira selama 17 tahun, kehidupan anak manusia ini disokong penuh oleh orang tuanya. Bagi anak-anak, sumber kehidupan dan harapan mereka adalah orang tuanya, apalagi bagi anak-anak yang masih bayi&balita. 
Orang tua bagi mereka adalah pusat kehidupan: makan-minum dan kelangsungan hidup mereka tergantung pada penyediaan orang tua, perlindungan mereka dari berbagai bentuk bahaya adalah orang tua mereka. Tempat anak-anak untuk bergantung, bersandar, meminta petunjuk dan bimbingan adalah orang tua. Aku tekankan disini bahwa bagi anak-anak, di hidup-mati mereka berada tangan orang, dan orang tua memiliki kuasa untuk menentukan nasib anak-anak mereka ini. Memiliki kuasa atas hidup manusia lain (walaupun manusia kecil), adalah tanggung jawab yang besar dan gampang-gampang-susah untuk dijalani. 
Mother & Baby | source:Google
Aku menyimpulkan secara umum, ada dua tipe orang tua. Ya. Hanya dua. 
Kalau dia bukan orang tua yang 'ideal' dia adalah orang tua yang 'tidak ideal' , kalau dia bukan orang tua yang 'baik' dia adalah orang tua yang ' tidak baik', kalau dia bukan orang tua 'pengasih' berarti dia 'tidak pengasih' dan lain-lain dan seterusnya.

Orang tua yang baik dan ideal menurutku, adalah orang tua yang bahagia dan sehat rohaninya. 
Orang tua yang mengetahui siapa dirinya dan hidup sebagai dirinya sendiri. 
Orang tua yang sudah menemukan 'inner peace' atau minimal penuh rasa syukur /contented. 
Mereka tidak mengandalkan orang lain untuk bahagia. 
Mereka orang-orang tulus dan ikhlas. Mereka bukan orang sempurna yang tanpa cela, tapi mereka  memiliki pemikiran dan hati yang terbuka, mereka tipe orang yang bisa menerima bahwa mereka juga bisa salah dan bisa  berbesar  hati untuk mengakui kesalahan mereka lalu merubah diri. 
Mereka memiliki ketegaran sejati dalam menghadapi kesulitan&kehidupan, mereka tidak menyalahkan keadaan, orang lain atau anak-anak mereka.
Mereka mengetahui cara menyelesaikan amarah dan kesedihan mereka tanpa merusak orang-orang disekeliling mereka yang mereka kasihi.
Mereka penerima dan pemberi sejati. 
Tidak menyalah gunakan kekuasaan mereka untuk mengatur, memanipulasi atau menuntut anak mereka. 
Orang tua yang seperti inilah yang  akan mampu memberikan kasih sayang tanpa menuntut balasan. Memberi cinta tanpa syarat. Orang tua seperti ini-lah yang menurutku akan mampu memberikan rasa aman, rasa diterima, rasa penting, rasa berharga. Memenuhi kebutuhan emosi dasar seorang bayi manusia. 

Bayi-bayi ini karena dicintai dan diterima apa adanya, menjadi sangat polos dan jujur.  Emosi apapun yang mereka rasakan, mereka akan pada saat itu juga SEGERA mengekspresikannya.
Saat mereka merasa senang, mereka akan tersenyum, saat mereka melihat sesuatu yang lucu, mereka akan tertawa tebahak-bahak, saat mereka melihat orang yang pura-pura lucu, mereka akan diam saja, bahkan menangis, saat mereka lapar dan marah mereka akan berteriak, saat mereka kehausan mereka akan menangis tersedu-sedu, saat mereka mereka merasa tidak nyaman, mereka akan merengek-rengek, sampai orang tua mereka memberikan respon yang mereka mau, mereka akan terus mengekspresikan diri mereka, lalu setelah mereka menerima apa yang mereka butuhkan, mereka akan tidur pulas dengan tenang, wajah mereka penuh kedamaian seperti tidak terjadi apa-apa, anak-anak yang tadinya menangis marah karena lapar, sesaat setelah mereka disuapi makanan kesukannya, akan berhenti menangis, sebaliknya dia akan mengunyah dengan semangat, sambil tersenyum ceria dan tertawa-tawa, awan gelap dan hujan badai yang berlangsung sebelumnya lenyap tak berbekas dipenuhi cahaya matahari yang hangat dan ceria.

Anak-anak itu begitu spontan dan ekspresif. Mereka memiliki kejujuran berekspresi dan kemurnian yang membuat mereka sangat menarik  bagaikan magnet.
Anak-anak ini tidak memendam perasaan, tidak menyembunyikan emosi, tidak berpura-pura supaya kelihatan lebih baik, mereka tidak berusaha mengimpresi atau menyenangkan siapapun, mereka menjadi diri mereka sendiri, melakukan yang mereka mau dan tidak mau melakukan apa yang tidak mereka mau, jujur dan apa adanya. Kita merasa aman dan nyaman berada di dekat anak-anak ini karena kita tahu tidak ada yang mereka sembunyikan, tidak ada maksud lain dibalik maksud mereka yang sesungguhnya, tidak ada komentar-komentar tambahan dibalik perkataan yang mereka perkatakan. 

Anak-anak yang menerima keutuhan perhatian dan kasih sayang orang tua yang demikian, dalam bayangan saya akan menjadi anak yang mampu memahami keadaan dirinya, percaya diri, positif, dan tidak takut berekspresi, karena mereka tahu mereka bisa jadi apapun yang mereka mau, sesuai minat, karakter dan talenta mereka namun tetap dicintai tanpa syarat. Mereka bisa melakukan kesalahan namun tetap dimaafkan dan diberi bimbingan untuk memperbaiki kesalahan mereka untuk menjadi lebih baik. 
Mereka bisa memiliki kekurangan namun diterima apa adanya oleh orang tua mereka sehingga mereka bisa melihat bahwa sesungguhnya kekurangan itu adalah bagian dari kelebihan mereka juga. 
Mereka boleh memilih apa yang mereka mau, tanpa dipaksakan kehendaknya oleh orang tua mereka. Mereka bebas dan maksimal, bahagia hidup sebagai diri sendiri, mereka bisa bertumbuh, berkembang dan mencapai kemaksimalan hidup mereka dan mampu mengubah dunia dengan karya-karya mereka. Dan yang paling penting mereka akan melahirkan dan mendidik anak-anak mereka, generasi masa depan,  dengan ketulusan dan cinta sejati seperti yang diteladankan oleh orang tua mereka. 

Anak yang Didengarkan Orang Tua nya ketika bercerita
source: Google search
Mimpiku adalah, bisa melihat semakin banyak orang-orang tua sejati yang bisa mendidik anak-anak mereka dengan keteladanan dan mencintai tanpa syarat. Sehingga, anak-anak lain nanti tidak harus mengalami penderitaan fisik dan batin. Penderitaan  yang lukanya tersembunyi di dasar hati, seringkali tidak terdeteksi dan membuat hidup mereka tidak sempurna dan menghambat mereka untuk bisa mencapai kemaksimalan hidup mereka.

Apakah itu mungkin?Apakah impian ini realistis?mungkinkah seorang manusia bisa jadi sebaik itu?setidak egois itu?semurni dan se-tak bersyarat itu?
Bagi saya itu mungkin saja. Saya melihat kecenderungan yang dilakukan orang-orang di dunia saat ini adalah untuk berusaha, berjuang supaya bisa lebih baik dari sebelumnya, dalam dunia pekerjaan, dalam bisnis dan berkarya, orang-orang mencoba meraih ’kesempurnaan’. Jadi saya rasa, kita pun bisa berusaha mencoba menjadi orang terbaik yang kita bisa, untuk nantinya bisa menjadi orang tua terbaik yang kita bisa:D Saya percaya, semuanya diawali oleh setitik kemauan. 


Catatan: Lantas bagaimana dengan tipe orang tua yang satunya? Apa yang dialami anak-anak mereka? nantikan tulisanku selanjutnya ;)



You Might Also Like

0 comments

Popular Posts