Intro to D.I.Y Healing: Mengusahakan Kesembuhan Diri

7:04 AM

Just a little doodle i feel like drawing when writting this:)

Kesembuhan kita adalah anugrah Tuhan yang baru bisa kita terima dengan cara mengusahakan kesembuhan itu sendiri, dengan motivasi keinginan dan keterbukaan yang tulus. 
-from my opinion




Di penghujung tahun ini, saya mendapatkan dorongan dari dari hati untuk melakukan hal yang sudah lama sekali tidak saya lakukan:) menulis blog..



kilas balik: 

Saya lihat postingan terakhir saya tertanggal Oktober 2012, sudah hampir setahun berlalu. 
Tulisan terakhir saya di blog ini adalah tentang bagaimana saya mulai melihat keadaan hati dan diri saya yang sesungguhnya, kebenaran bahwa hati saya cacat, dan bahwa selama 25 tahun saya  hidup dalam 'denial' /kepura-puraan, hati saya terasa bolong, apapun yang saya lakukan dan saya miliki-saya tidak bahagia, merasa sendirian, merasa lelah secara fisik maupun batin, saya sakit-sakitan, dan saya merasa ingin mati saja dan berharap dunia yang akan datang tidak  semenyedihkan dunia ini.  

Saya pun bereksplorasi dan menemukan bahwa penyebab kecacatan hati saya adalah karena kebutuhan emosi saya tidak terpenuhi sewaktu saya masih dalam masa pertumbuhan, 
kebutuhan emosi tersebut tidak lain adalah :kasih tanpa syarat dari pengasuh kita, meliputi rasa berharga, rasa penting, rasa diterima, rasa aman, rasa dilibatkan, serta absennya teladan hidup mengenai bagaimana cara kita mengasihi Tuhan, diri sendiri, orang lain dan lingkungan (lengkapnya lihat: kisah anak yang hilang) . 

Dan saya merasa, bukan saya saja yang mengalami hal seperti ini. 
Banyak anak yang lahir dalam keluarga yang miskin kasih, dimana ayah dan bundanya tidak bahagia, tidak saling mengasihi dalam kasih tulus, tercerai berai, bahkan penuh kekerasan, dan percaya atau tidak, absennya cinta kasih yang tulus dalam keluarga memiliki dampak yang traumatis dengan intensitas yang berbeda-beda pada setiap orang tergantung kasusnya. 

Trauma ini lantas membekas di hati kita sampai kita dewasa, mendikte kita dengan perasaan takut & amarah serta memblokir kemampuan kita untuk menjadi diri sendiri, menjadi lebih baik,  mengasihi sesama dengan tulus dan juga mencegah kita untuk berkarya, sampai kita menyembuhkannya.

Sekali lagi saya ingatkan, penjabaran saya disini bukan bermaksud untuk menunjukan kesalahan pengasuh/orang tua kita, tetapi untuk melihat kenyataan sebagai mana adanya, bahwa absennya cinta dalam keluarga memberi ruang bagi ego dan kekerasan, dan bahwa hal ini berdampak bagi anak2 dalam keluarga tersebut.  Dan apablia anak itu dewasa, dan menyadari bahwa dirinya cacat batin seperti saya misalnya, menyalahkan pengasuh/orang tua tidak akan menyembuhkan dan menyelsaikan masalah saya. Sebaliknya akan membuat saya makin jatuh terpuruk. 

MENYALAHKAN ORANG LAIN TIDAK AKAN PERNAH BISA MENYELESAIKAN MASALAH. 

Disamping itu saya percaya bahwa Kemajuan dan Kesembuhan kita adalah anugrah Tuhan yang baru bisa kita terima dengan cara mengusahakan kesembuhan itu sendiri dengan motivasi keinginan dan keterbukaan yang tulus... bukan dengan menuntut Tuhan untuk menunjukan mukjizat instan yang ajaib,atau menuntut orang lain melakukannya untuk kita, dari pengalaman saya hal2 seperti itu tidak berhasil atau kalau berhasil hanya bersifat sementara, yang saya percaya sebagai tindakan yang membuahkan hasil adalah ketika saya mengambil tanggung jawab pribadi untuk menyembuhkan diri saya sendiri.

Pada tulisan saya yang akan datang, saya akan membagikan sedikit pengalaman perjalanan saya selama sejak Oktober 2012 lalu, dalam usaha saya untuk sembuh dari penyakit fisik dan batin saya…disaat yang lalu saya terlalu bingun dengan keadaan diri saya sampai tidak mampu menuliskannya dengan kata-kata, kini saya berusaha menulis dan membagikannya karena saya terdorong aja dari hati :)..barangkali resep obat saya bisa bermanfaat bagi orang lain...

Demikian intro dari saya:) sampai jumpa lagi selamat malam semuanya, semoga hari ini penuh inspirasi..

Salam,
Flora

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts